NAMA : SHAFA ANDHIKA
KELAS : PSTI-B
NPM : 2215061110
KUIS PENGETAHUAN LINGKUNGAN
METERI TENTANG KEMISKINAN
1.
Akar Masalah dari Kemiskinan
Menurut Kepala Bidang
Pemberdayaan Sosial dan Penanganan Fakir Miskin Dinsos Ngawi Budi Priyanto,
penyebab kemiskinan ini adalah tingkat pendidikan. Beliau mencontohkan
banyaknya lulusan SMA yang tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Sementara, untuk bekerja mereka terkendala kemampuan teknis. ‘’Ada anggapan
orang tua bahwa anak tak perlu sekolah tinggi-tinggi. Itu salah dan harus
diubah, karena pendidikan itu kunci utama lepas dari kemiskinan,’’ bebernya.
Selain tingkat
pendidikan, hal lain yang menurutnya menambah tinggi angka kemiskinan di Ngawi
juga berkorelasi dengan jenjang usia. Warga miskin dari kalangan lansia,
misalnya, meski mendapat bantuan pemerintah, kondisi ekonomi keluarga membuat
mereka sulit keluar dari jerat kemiskinan.
Sementara menurut
Wikipedia kemiskinan diartikan sebagai keadaan di mana terjadi ketidakmampuan
untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat berlindung,
pendidikan, dan kesehatan. Dan kemiskinan disebabkan oleh kelangkaan alat
pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan
pekerjaan.
Berbagai upaya
pengentasan kemiskinan diupayakan dengan berbagai kebijakan. Seperti bantuan
langsung atau melalui layanan fasilitas kesehatan dan pendidikan. Namun upaya
ini belum menampakkan hasilnya.
Sejalan dengan hal ini
Budi mengatakan, ‘’Upaya pengentasan kemiskinan memang tak mudah. Dengan segala
bantuan, perlindungan dan jaminan sosial itu sifatnya stimulus. Mereka tidak
bisa langsung lepas dari kemiskinan.”
Beberapa program telah
disiapkan dinsos menindaklanjuti bantuan pemprov. Salah satunya pembentukan
kelompok usaha bersama (kube). Rencananya program tersebut bakal diperuntukkan
90 kelompok atau 900 warga di Kecamatan di daerahnya.
Berbagai kebijakan juga
telah ditempuh. Namun minim dari kondisi perbaikan. Angka kemiskinan justru
semakin tinggi. Tidak hanya di Ngawi, tapi juga di wilayah lain. Bahkan menurut
laporan tahunan Global Wealth Report 2016, Indonesia menempati negara keempat
dengan kesenjangan sosial tertinggi di dunia. Tidak bisa dipungkiri lagi,
ini akibat dari kelanjutan penguasaan harta oleh individu maupun kelompok
(pengusaha). Diperkirakan satu persen orang kaya di Tanah Air menguasai 49
persen total kekayaan nasional
Sejatinya, kemiskinan
yang menimpa negeri ini lebih merupakan kemiskinan struktural/sistemik. Yaitu
kemiskinan yang diciptakan oleh sistem yang diberlakukan ysitu sistem
sekuler-kapitalis. Sistem inilah yang telah membuat kekayaan negara yang
seharusnya milik rakyat manjadi dikuasai dan dinikmati oleh pihak swasta (Asing
dan Aseng).
Di negeri telah terjadi
privatisasi sumber daya alam dan fasilitas umum. Akibatnya, jutaan rakyat
terhalang untuk menikmati hak mereka atas sumber-sumber kekayaan alam dan
fasilitas umum tersebut. Kekayaan alam harusnya dimanfaatkan untuk kepentingan
masyarakat. Fasilitas umum juga disediakan cuma-cuma untuk rakyat. Sehingga
rakyat bisa mengenyam kekayaan alam yang disalurkan melalui sekolah, kesehatan
dan sarana dan prasarana yang lain. Selain itusemua adalah hak rakyat, juga sarana
pelayanan pemerintah untuk memudahkan urusan rakyat dalam memenuhi
kebutuhan/hajat hidup. Bukan sperti di sistem sekuler kapitalis yang hanya
memperhitungkan nilai kapital, seglhinga semua berbayar bagi rakyat.dan jelas
menimbulkan beban hidup rakyat.
Miskin dalam pandangan
Islam bukan diatur dengan besar pengeluaran atau pendapatan, tetapi dari
pemenuhan kebutuhan asasiyah (pokok) secara perorangan. Kebutuhan pokok itu
mencakup sandang, pangan, perumahan, kesehatan dan pendidikan secara layak.
Allah SWT berfirman: “Kewajiban para ayah memberikan makanan dan pakaian
kepada keluarga secara layak.” (TQS al-Baqarah [2]: 233).
Tempatkanlah para istri di tempat mana saja kalian bertempat
tinggal menurut kemampuan kalian. Janganlah kalian menyusahkan mereka untuk
menyempitkan (hati) mereka (TQS ath-Thalaq [85]: 6).
Hal ini sangat berbeda
jauh dengan cara pandang dalam sistem kapitalis yaitu mereka yang memiliki
pengeluaran di bawah Rp 401.220 perkapita perbulan (sekitar Rp 13 ribu
perhari). Bahkan menurut PBB pada tahun 2015 telah merevisi pengukuran
kemiskinan ekstrem yang semula 1,25 dolar (AS) menjadi 1,9 dolar (AS).
Berdasarkan standar ini orang dinyatakan sangat miskin jika memiliki
pendapatan/pengeluaran kurang dari 1,9 dolar perhari (sekitar Rp 27.550 perhari).
Jika standar PBB ini digunakan maka jumlah warga yang terkategori amat miskin
akan melejit, bisa mencapai 30 persen warga Indonesia atau lebih dari 75 juta
orang.
- 2. Siapa
yang terdampak pada kemiskinan
Kemiskinan merupakan salah satu masalah kebanyakan
negara berkembang di dunia ini. Di tahun 2021 terbukti BPS membikin laporan
bahwa di tahun 2021 tingkat kemiskinan mencapai sebesar 10.4% atau sebanyak
27,4 juta orang Indonesia berstatus miskin. Meskipun angka itu sedikit turun
jika disbanding tahun sebelumnya,tetapi angka itu masih tergolong tinggi.
Kemiskinan yang terjadi di Indonesia juga merupakan masalah tertinggi di
Indonesia, di provinsi Jawa Timur sendiri menurut BPS sekitar 4 juta orang
terinidikasi termasuk golongan penduduk miskin, jumlah ini merupakan terbanyak
yang ada di Provinsi Jawa lainnya. Dalam hal ini Indonesia sangat kurang dalam
membantu masyarakatnya yang terindikasi kemiskinan. Menurut yang dilansir oleh
BPS meskipun di Jawa Timur indikasi orang miskin terbanyak tetapi rata rata
yang mendapatkan bantuan dari program pemerintah hanyalah 36,33% jumlah ini
termasuk sedikit apabila dibandingkan oleh provinsi Jawa Tengah yang
mendapatkan 41,47% dengan tingkat kemiskinan sekitar 3.980,90 orang yang
terdampak kemiskinan. Kemiskinan ini juga dapat dilihat dari tingkat tenaga
kerja di Indonesia, menurut BPS di tahun 2020 hanya 13,61% tenaga kerja yang
bekerja, data ini terjadi penurunan apabila dibandingkan tahun sebelumnya yaitu
di tahun 2019 ada 14,68% dan di tahun 2019 14,91%. Di Indonesia sendiri
terutama DKI Jakarta menurut BPS Februari 2021 sebanyak 2.559.300 orang bahkan
tidak tamat SD(Sekolah Dasar) data ini menunjukkan bahwa minimnya angka
pendidikan ini juga dapat mempengaruhi tingkat kemiskinan yang ada.
Meskipun begitu angka pendidikan sebenarnya bisa
saja hanya angka yang ada buktinya meskipun angka pendidikan DKI Jakarta sangat
minim tetapi DKI Jakarta tidak menempati angka kemiskinan tertinggi di Provinsi
Jawa. Hal ini mengaitkan bahwa ada cara yang dilakukan oleh pemerintah DKI
dalam melakukan pemberantasan kemiskinan. Salah satunya dengan mengadakan
pelatihan yang bertujuan mendidik agar masyrakatnya dapat mempelajari skill
yang berguna untuk mencari pekerjaan.
Menurut saya seharusnya pemerintah bisa lebih
efisien dalam memberikan bantuan kepada masyarakat miskin, terbukti data diatas
itu jauh dari jangkauan yang diinginkan. Dan juga seharusnya pemerintah bisa
lebih peduli terhadap permasalahan ini,karena ini bukan masalah yang mudah
untuk diatasi,buktinya dari tahun ke tahun masalah kemiskinan ini selalu
menjadi topik pembahasan yang tidak ada habisnya. Oleh karena itu pemerintah
bisa dengan mendistibusikan dana bantuan ke orang miskin bisa lebih merata.
Bantuan lainnya bisa dengan memberikan pelatihan ketenagakerjaan. Di daerah
tertentu banyak masyarakat atau orang orang belum mengerti tentang beberapa
softskill tertentu, dengan itu juga pemerintah dapat.membantunya dengan
mengadakan beberapa seminar yang dapat membantu masyarakat.
Kesimpulan yang bisa diambil yaitu pemerintah dapat
mengadakan bantuan sosial yang dapat membantu permasalahan masyarakat miskin
seperti, bantuan sosial, seminar tentang soft skill dan lainnya. Dan juga
pemerintah dapat mengedukasikan masyarakat nya untuk menamatkan
pendidikan,karena masih banyak masyarakat yang belum mengetahui seberapa
pentingnya pendidikan untuk dapat mengatasi kemiskinan yang ada. Dan juga
pemerintah dapat memperbaiki fasilitasnya agar semua masyarakat dapat
memakainya untuk kebutuhan semua.
- 3.
Analisa
solusi yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan masalah
Kemiskinan adalah masalah sosial yang
ruwet/kompleks, saling berkaitan dengan problem lain, dan terjadi hampir di
setiap belahan dunia yang berpenduduk. Tidak peduli apakah suatu negara tergolong
berkembang atau maju, masalah kemiskinan pasti akan tetap bisa kita temukan
disana. Walau berbagai cara mengatasi kemiskinan sudah ditempuh sejak dulu,
namun pada kenyataannya problematika ini kelihatan sulit sekali untuk
dihilangkan.
Bahkan saya mengangggap masalah
kemiskinan ini sebagai suatu problem yang mustahil untuk diatasi sepenuhnya.
Membayangkan dunia yang tanpa ada satupun orang miskin di dalamnya kok rasanya
seperti aneh saja. Nanti siapa yang bakal dikasih sedekah, santunan, dan
sebagainya?
·
Akan tetapi, paradigma seperti itu seharusnya
tidak boleh sedetikpun meredakan semangat kita untuk terus berupaya dalam
mengatasi masalah kemiskinan yang terjadi. Kalau perlu setiap hari kita harus
proaktif, lakukan paling tidak satu hal yang dapat mengatasi permasaalahan ini.
Adapun soal caranya, tentu ada banyak sekali. Namun sebagai permulaan, sebagai
berikut :
perluas jaringan
pertemanan
bekerja atau berdagang
meningkatkan kulitas sdm
Membangun infrastruktur
membuka lampangan pekerjaan
- 4. .Siapa yang harus
menerapkan solusi nomor 3?
Berdasarkan solusi nomor 3 ada beberapa
pihak yang dapat meneraptkan yang pertama adalah peran pemerintah, yang kedua
adlah peran individu, dan yang ke 3 adalah peran masyarakat.
Komentar
Posting Komentar